Jaga Daya Beli Rakyat, Ekonom Sarankan Pemerintah Lakukan Ini

Ilustrasi Investasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi mengalami tren penurunan. Melihat fenomena ini, pemerintah diharapkan bisa dengan cepat untuk mengambil langkah serius.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2022 mencapai 5,01% (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut menjadi yang terendah sejak kuartal III-2021.

Konsumsi rumah tangga pada kuartal IV-2022 tumbuh 4,48% (yoy), jauh lebih kecil dibandingkan kuartal II-2022 (5,51%) dan kuartal III-2022 (5,39%).

“Konsumsi domestik mungkin sudah cenderung menurun atau setidaknya stagnan,” jelas Senior Ekonom BCA Barra Kukuh Mamia dan Analis Lazuardin Thariq Hamzah dalam riset terbaru BCA, dikutip Rabu (8/2/2023).

BCA memandang, ancaman perlambatan konsumsi bukanlah kabar baik bagi pemerintah. Terutama di tahun yang sensitif secara politik. Sementara, pemerintah memiliki target pertumbuhan ekonomi mencapai 5,3% (year on year) pada 2023.

Dalam risetnya, BCA pun menyarankan agar pemerintah bisa tetap mengendalikan tingkat inflasi. Serta memberikan dorongan ekonomi dengan memangkas harga energi bersubsidi.

“Harga energi saat ini lebih rendah, daripada saat pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga bahan bakar bersubsidi,” jelas BCA.

“Dengan harga minyak berkisar antara US$ 77 hingga US$ 88 per barel pada 2023, dibandingkan dengan harga pada kuartal II-2022 yang mencapai US$ 92 hingga US$ 113 per barel,” ujar BCA lagi.

Adapun lewat APBN 2023, pemerintah mematok asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar US$ 90 per barel.

Di satu sisi, penguatan rupiah saat ini juga membantu Pertamina dan PLN untuk melakukan persediaan mereka, dengan harga yang lebih murah.

Sederhananya, dengan menurunkan harga BBM bersubsidi, daya beli konsumen akan langsung meningkat, margin korporasi akan meningkat dan investasi dapat dirangsang.

Kendati demikian, penurunan harga BBM bersubsidi juga masih sangat bergantung terhadap pergerakan harga minyak mentah dunia itu sendiri.

“Jelas, pemerintah bingung antara urgensi politik dan ekonomi untuk menghindari konsumsi yang merosot dan kewajiban untuk menerapkan anggaran yang konservatif,” jelas BCA.

Opsi kebijakan lain yang dapat dipertimbangkan pemerintah adalah menetapkan kontribusi fiskal untuk subsidi minyak dengan harga tetap.

Kebijakan ini akan memperkenalkan disiplin fiskal dalam pengeluaran untuk subsidi bahan bakar bersubsidi, yang memungkinkan pemerintah untuk mengejar proyek-proyek besar lainnya dengan aman.

“Namun, kebijakan tersebut dapat menyebabkan ketidakstabilan harga, yang mungkin tidak produktif dalam mendorong konsumsi domestik,” tulis BCA.

Disiplin fiskal memang menjadi daya pikat utama di balik kebijakan subsidi BBM yang ‘tetap’, namun fitur tersebut mungkin bukan cara terbaik untuk melawan gejala awal pelemahan konsumsi yang muncul akhir-akhir ini.

Kabar baiknya, penyesuaian upah tahunan yang sudah ditetapkan akhir tahun lalu, dapat membantu memulihkan daya beli. terutama bagi mereka yang berada di kelas profesional.

Demikian juga lonjakan permintaan musiman selama Ramadhan dan Idul Fitri, yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi pada semester I-2023.

Pengeluaran pemilu juga dapat memberikan beberapa dorongan untuk pertumbuhan ekonomi domestik di kuartal-kuartal berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*