Bukan Kiamat, Ayat Terpanjang Al Quran Justru Membahas Utang

Al quran

Al-Quran merupakan pedoman hidup bagi umat Islam. Di dalamnya tidak hanya mengatur tata cara beribadah kepada Allah SWT tetapi juga kehidupan sehari-hari hingga berbagai sendi kehidupan.

Al Quran juga banyak mengandung ayat yang menjelaskan perihal ekonomi masyarakat. Islam memiliki ajaran yang mulia dan unggul untuk menata ekonomi dalam kehidupan.

Aturan jual beli, menghindari kehidupan berfoya-foya, keindahan berbagi dengan seksama, serta riba merupakan beberapa hal yang dijelaskan dalam Al-Quran.

Dalam perkembangannya, prinsip ekonomi Islam menggabungkan berbagai macam pikiran, paradigma, pandangan, gagasan, etika, dan penafsiran yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits.

Ulama juga berperang penting dalam melakukan penafsiran dengan berbagai perkembangan yang pesat di zaman sekarang.

Betapa pentingnya sendi-sendi kehidupan ekonomi Umat Islam tercermin dalam panjangnya ayat terkait ekonomi.

Ayat terpanjang dalam Al Quran bukanlah mengenai kiamat atau cerita nabi atau mengenai tata cara beribadah kepada Allah SWT.

Ayat terpanjang dalam Al Quran adalah mengenai utang piutang. Ayat tersebut terkandung dalam Surah Al Baqarah ayat 282 dan dikenal dengan nama ayat al-Mudayanah. Kompsosisi  angka ayat tersebut (282) bahkan seperti neraca yang harus berimbang.

Panjangnya ayat tersebut menjadi cerminan bagaimana Islam memandang seris mengenai perkara utang piutang.

Pasalnya, utang bisa membuat putusnya silaturhami hingga membuat sebuah keluarga hancur.

Al Baqarah ayat 282  setidaknya membahas tiga isu penting dalam perkara utang piutang:
1. Pentingnya bukti tertulis dalam perkara utang piutang

2. Adanya saksi

3. Pentingnya saling percaya

Selengkapnya mengenai terjemahan Al Baqarah ayat 282:
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah dia menuliskan. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan, dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikit pun daripadanya. Jika yang berutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah (keadaannya), atau tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada), agar jika yang seorang lupa, maka yang seorang lagi mengingatkannya. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apa-bila dipanggil. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya, untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual beli, dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sungguh, hal itu suatu kefasikan pada kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*